Makanan Ketan Bintul (Serang) Sate Bandeng (Serang) Pecak Bandeng (Serang) Rabeg (Serang) Nasi Gonjleng (Serang) Nasi Leumeng (P...
Translate
- Wilayah Cibangkong
- Wilayah Nyimas Carik
- Wilayah Talang Air
- Wilayah Putri Mandi Satu
- Wilayah Sulanjana
- Wilayah Cilelet
- Wilayah Pekanbaran
- Wilayah Cakar
Wilayah Cibangkong Wilayah Nyimas Carik Wilayah Talang Air Wilayah Putri Mandi Satu Wilayah Sulanjana Wilayah Cilelet Wilayah Pekanba...
SUDAH terlalu lama kita meninggalkan keluarga Qoshdu, untuk
mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Baiklah, kita menjenguk ke tempat
tinggal mereka di Kampung Seruni. Ketika itu, telah terjadi banyak perubahan
pada diri mereka. Qoshdu telah berubah menjadi seorang pria setengah baya, saat
itu umurnya sekitar 46 tahun. Penampilannya semakin tenang dari berwibawa. Dan
karena rasa hormat penduduk kepadanya, ia kemudian diberi gelar dengan sebutan
Ki Qoshdu. Sedangkan istrinya, Nyi Fadmah yang dengan setia selalu mendampingi
Ki Qoshdu. Kendatipun usianya telah mendekati 39 tahun, namun ia tampak awet
muda dan masih menampakkan kecantikannya.
Sementara itu, Abbas telah beranjak dewasa. Berkat ketekunan Ki
Qoshdu dalam mendidik putranya, Abbas berkembang menjadi seorang pemuda yang
matang. la mewarisi semua sifat yang baik dari ayahnya. Semuda itu, Abbas sudah
memiliki pandangan yang luas. Perhatiannya terhadap keadaan rakyat dan negara
sangat besar sekali, jiwa patriotisme yang menjadi kebanggaan keluarganya
seperti melekat ke dalam hatinya. Keluarga Qoshdu, memang selalu dekat dengan
rakyat. Mereka dikenal sebagai pejuang yang tak kenal lelah. Ki Qoshdu dan Abbas
selalu bahu‑membahu dengan pergerakan rakyat lainnya dalam menentang penjajah
Belanda. Namun, perlawanan Ki Qoshdu dan Abbas akhirnya tercium juga. Oleh
karena itu, pemerintah kolonial Belanda secara diam‑diam mengawasi gerak‑gerik
Ki Qoshdu serta putranya, untuk mengetahui sampai sejauh mana hubungan mereka
dengan para pemimpin rakyat lainnya. Di samping itu, pihak Belanda masih mencari
bukti‑bukti tentang keterlibatan mereka dengan beberapa kerusuhan yang terjadi
belakangan ini di Banten. Sebab, tanpa kesalahan yang jelas, pihak Belanda tidak
dapat berbuat apa‑apa terhadap mereka
SUDAH terlalu lama kita meninggalkan keluarga Qoshdu, untuk mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Baiklah, kita menjenguk ke tempat ...
BAIKLAH, sebelum kita ikuti peristiwa bersejarah berikutnya yang melahirkan tokoh utama dalam buku ini.
Pada pertengahan abad ke 16, Banten berada di bawah kekuasaan
kerajaan Sunda, dengan pusat pemerintahan di Wahanten Girang, di tepi kali
Dalung, yaitu di sekitar Sempu sekarang. Ketika itu penduduk Banten memeluk
agama Hindu, yang mengabdi kepada Prabu Pucuk Umun sebagai penguasa tertinggi di
daerah itu. Perlu diketahui, menurut catatan sejarah, Prabu Pucuk Umun termasuk
keluarga dekat dari Prabu Siliwangi yang menjadi raja di Pajajaran. Pada masa
itu, Banten cukup ramai dikunjungi pedagang asing dari beberapa negara.
Sementara pelabuhan Banten, tercatat sebagai pusat perdagangan yang menarik
perhatian para saudagar Asia dan Eropa. Hasil
bumi yang diperdagangkan waktu itu adalah beras dan lada.
PERANG GUDANG BATU PERTAMA BAIKLAH, sebelum kita ikuti peristiwa bersejarah berikutnya yang melahirkan tokoh utama dalam buku ...
Di bagian lain Indonesia, seperti di Sumatera dan di negara tetangga Malaysia, kue tradisional klepon disebut sebagai onde-onde. Sementara di Jawa onde-onde adalah merujuk ke Cina Jin deui, beras kue bola dilapisi dengan biji wijen diisi dengan pasta greenbean manis. Meskipun populer di seluruh Asia Tenggara, klepon mungkin berasal dari Jawa.
Kue tradisional Klepon, bersama dengan getuk dan cenil biasanya dimakan sebagai cemilan pagi atau sore hari. Untuk makan klepon harus berhati-hati karena salah satu yang baru direbus biasanya berisi gula kelapa cair panas yang akan bisa muncrat ketika kita menggigit.
Klepon (diucapkan KLE-pon) adalah kue tradisional , populer di Indonesia dan Malaysia. Ini adalah kue dari bahan ketan, diisi dengan gula...

